by

TBC Meningkat, Dinkes Giatkan Pencegahan

Auroramedia.id – Saat ini, jumlah penderita tuberculosis (TBC) paru di Indonesia nomor tiga terbanyak sedunia. Sejalan dengan itu, penderita di Bogor terus bertambah dan menyebar di semua kecamatan. Hingga triwulan pertama 2019, ada 844 orang menderita TBC di Kota Bogor.

Jumlah itu bisa saja meningkat di akhir tahun, seperti pada sepanjang 2018, ada 3.696 kasus tuberculosis terjadi di Kota Hujan. Catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, sampai triwulan I 2019, kisaran umur yang paling banyak terdapat suspek kasus tuberkolosis ada pada usia 25-34 tahun dengan 164 kasus.

“Kedua pada range usia 15-24 tahun, ada 155 kasus. Diikuti range usia 35-44 tahun dengan 119 kasus. Usia dibawah lima tahun juga cukup banyak, sampai triwulan I 2019 ada 82 pasien, ” kata Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Surveilance (P3MS) Dinkes Kota Bogor, Wahyu Pito Supeni, kepada Metropolitan, kemarin.

Menurutnya, tren yang sama juga terjadi pada tahun 2018, dimana kasus terbanyak terdapat pada kisaran usia produktif. Paling banyak dengan jumlah 751 kasus pada kisaran usia 15-24 tahun. Diikuti 722 kasus pada pasien berusia 25-34 tahun dan pada range usia 45-54 tahun dengan jumlah suspek 578 pasien.

“Saat ini jumlah penderita tuberkulosis paru di Indonesia adalah peringkat tiga di dunia. Jumlah penderita di Bogor terus bertambah dan menyebar di semua kecamatan, ” paparnya.

Ia menambahkan, TBC disebabkan oleh bakteri mycobaterium tuberkulose, yang menular melalui percikan ketika penderita batuk atau bersin.

“Bakteri itu hidup pada lingkungan yg jelek. Lembab, kurang sirkulasi udara, kurang cahanya matahari, makanya mudah nular, ” ujarnya.

Dinkes pun melakukan berbagai upaya, diantaranya sosialisasi program penanggulangan tuberkolosis kepada berbagai organisasi profesi kesehatan, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan yang lainnya. Lalu membentuk koalisi dengan tujuan membantu pemerintah tanggulangi penyakit tuberkolosis sesuai profesi masing-masing.

“Ada sebelas organisasi profesi bergabung dalam koalisi ini. Penguatan kali ini memberikan tambahan informasi kaitan district public private mix, atau keterpaduan pelayanan pemerintah dan swasta berbasi kabupaten kota, ” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Bogor Rubaeah menerangkan, upaya itu sangat penting karena penanggulangan penyakit tuberkolosis memerlukan peran fasilitas pelayanan kesehatan swasta dan peran serta masyarakat.

“Pengetahuan tentang tuberkulosis yang baik dapat merubah perilaku masyarakat secara positif dalam mencegah penularan tuberkulosis, ” pungkasnya. (ryn/c/yok)

Comment

News Feed